Jumat, 26 September 2014

Manuk Hiber ku Jangjangna Jalma Hirup ku Akalna (Akal Budi sebagai Penyemangat Hidup)

      "Manuk hiber ku jangjangna jalma hirup ku akalna." (Burung hidup mengandalkan sarangnya, manusia hidup mengandalkan akalnya). Sebelumnya saya mohon koreksinya jika ada kekeliruan dalam menerjemahkan pepatah tersebut. Pepatah tersebut berasal dari juragan saya sewaktu saya masih bekerja di Lampung. Beliau seorang lelaki Banten yang baik dan bijaksana kepada para karyawannya. Biarpun tak begitu paham dengan bahasa Sunda, sepenggal kalimat tersebut masih terngiang di telingga saya selama puluhan tahun.

       Saya bertemu juragan saya yang bernama Pak Entong pada tahun 1970, ketika saya berumur 17 tahun. Sewajarnya remaja dusun yang baru mengenal kehidupan di luar Jawa, saya sering mengeluhkan kesulitan yang dialami. Kesulitan tersebut menyangkut penyesuaian diri pada lingkungan yang berbeda dari tanah kelahiran. Kehilangan yang biasa dinikmati, berganti dengan kehidupan keras yang menuntut kemandirian.

    Jiwa remaja bergejolak, belum bisa menerima perubahan. Bayangkan saja, saat di dusun apa-apa serba ada, gampang didapat bahkan merasa diladeni. Pokokmen wis cumawis, kari nembung wis cumepak (pokoknya sudah tersedia, cukup minta langsung didapatkan). Berkebalikan saat di Lampung yang segala sesuatunya harus diperoleh dengan usaha keras. Saya nyaris putus asa dan ingin secepatnya pulang kampung.

    Namun, Pak Entong mencegat keinginan saya. Beliau melontarkan sepenggal kalimat yang awalnya terasa nylekit bagi saya. Masak manusia dibandingkan dengan burung? Di mana sangkut-pautnya? Saya nggerundel dalam hati.

     Senyum Pak Entong mengembang ketika melihat saya murung. Kemudian beliau menjelaskan bahwa "manuk hiber ku jangjangna jalma hirup ku akalna" mempunyai makna gunakan akal dalam melangkah, buat apa Yang Maha Kuasa menciptakan akal kalau tidak digunakan sebagai mestinya.
   
     Petuah Pak Entong sukses menjewer kebebalan saya. Membuat saya berpikir betapa terbuainya diri pada zona nyaman saat berada di kampung. Pikiran saya tersentil untuk menyimak sabda alam yang diperlihatkan oleh seekor burung.

     Terlintas dalam benak saya tentang keseharian seekor burung. Setiap pagi, burung itu terbang dari sarangnya untuk mencari makan. Mereka pergi dalam keadaan lapar dan baru kembali ke sarangnya setelah memperoleh makanan.

     Burung memiliki sepasang sayap yang sanggup membawa mereka terbang bebas di angkasa. Mereka bisa saja menghabiskan sepanjang waktu untuk terbang menjelajahi angkasa. Namun, naluri mereka mengajarkan untuk membangun sarang. Burung seakan menyadari bahwa mereka mempunyai keterbatasan dan butuh tempat beristirahat yaitu sarang.

      Burung membangun sarang dengan berbagai bentuk dari jerami, rumput, tanah dan air liurnya. Dianyam sedemikian rupa hingga bisa dijadikan tempat berlindung dari ganasnya alam liar.

      Burung yang tak berakal saja mau bersusah payah membangun sarang, sungguh memalukan jika sebagai manusia saya tak menggunakan akal untuk mengatasi kesulitan. Saya tersadar jika mengeluh takkan bisa mengatasi kesulitan, malah akan memperburuk keadaan.

   Semenjak saat itu saya bertekad untuk berhenti mengeluh. Saya berusaha mendayagunakan akal untuk mengatasi kesulitan. Mengasah kepekaan untuk mencari peluang. Dengan bimbingan Pak Entong, saya berusaha mandiri. Mulai menggarap ladang yang dipinjamkan Pak Entong dan nyambi kerja serabutan sebagai tengkulak hasil bumi.

     Berulangkali gagal tetap saya lakoni. Berusaha dan terus berkarya. Berbagai pekerjaan saya lakukan. Bertanam singkong, bertani padi, memanjat pohon kelapa, bikin batu bata, bikin gerabah, jadi tengkulak,      berjualan kain, bahkan jadi kuli angkong di pasar. Setiap gagal panen ataupun merugi, saya selalu ingat nasehat Pak Entong. Tidak boleh mengeluh atau putus asa. Harus tetap semangat. Malu sama burung yang tidak berakal. Selalu berikhtiar dengan diiringi do'a.


     Sayangnya, mungkin saya bukan orang yang kuat derajat. Keberuntungan belum berpihak pada saya. Hasil bumi dan materi yang saya kumpulkan malah ludes dipakai berjudi oleh paman saya. Saya kehilangan muka di hadapan Pak Entong. Nyali saya remuk.

    Saya mengurungkan niat saya mempersunting putri beliau. Saya malu karena memiliki kerabat seorang penjudi. Akhirnya, saya putuskan pulang kampung dan merelakan gadis pujaan saya menikah dengan ulama setempat.

     Biarpun kesuksesan belum dalam genggaman saya, tapi saya pantang berputus asa. Petuah Pak Entong telah terpatri dalam benak. Saya melanjutkan hidup di kampung halaman sebagai tukang kayu. Selalu berkarya dan pantang putus asa. Mendayagunakan akal budi sebagai penyemangat hidup. Kini, saya telah berkeluarga dan dikaruniai 5 anak. Maturnuwun, Pak Entong. Nasehat panjenengan tansah kula eling-eling dumugi sakniki.

(Sepenggal kisah nyata @kusenmahoni )

Tulisan ini diikutsertakan dalam kontes GA Sadar Hati – Bahasa Daerah Harus Diminati.



  



1 komentar: